Jump to content


10 Produk Pangan Transgenik Berbahaya


  • Please log in to reply
9 replies to this topic

#1 RoyIrwan

RoyIrwan

    TK

  • Members
  • PipPip
  • 25 posts
  • Gender:Male
  • Location:Jakarta

Posted 26 July 2006 - 10:31 PM

Warning:
YLKI mengklaim ada 10 produk pangan hasil rekayasa genetika (transgenik) yang dinilai berbahaya. Walaupun Deptan belum menyetujui hasil temuan YLKI ini, kita sepatutnya waspada. Berikut 10 produk tsb:

1. Tahu Pong Halus "Poo" produksi Sari Lezat
2. Tofu Jepun produksi Kong Kee Food
3. Tempe Murni Super Djimmy
4. Susu Kedelai Coklat merk Sarinah
5. Susu Kedelai Ohayo produksi Harum Sari Food
6. Susu Formula NUTRILON SOYA produksi Nutricia
7. Corn Flakes Petales De Mais produksi Contimas
8. Keripik Kentang Mister Potato produksi Pacific Food
9. Keripk Kentang Pringleys produksi P&G
10. Tepung Jagung/Maizena merk Honig

Menurut liputan6.com, dalam sepuluh produk tersebut
terdapat racun berbahaya karena adanya penyisipan dua
gen yang membahayakan kesehatan bahkan bisa berujung
pada kematian.
ro_emote_wah.gif  ro_emote_wah.gif  ro_emote_wah.gif

#2 volron

volron

    modz e-health

  • e-modz
  • PipPipPipPipPipPipPipPipPip
  • 3,680 posts
  • Gender:Male
  • Location:Samarinda
  • Interests:volron possesses an interesting balance of hemispheric and sensory characteristics, with a slight right-brain dominance and a slight preference for visual processing.<br /><br />google talk: isnuwardana di gmail dot com<br />skype: isnuwardana

Posted 26 July 2006 - 11:02 PM

Umm

Dari situs yang diberikan sendiri sudah menyatakan kalo Departemen Pertanian masih ragu, soalnya masalah makanan transgenik ini memang masih menjadi berdebatan ...

Kalo baca2 di wikipedia sendiri, belum ada penelitian mengenai makanan transgenik yang benar2 terbukti membahayakan manusia ... tapi udah ditentang oleh pendukung pengguna makanan organik hingga Greenpeace ...

http://en.wikipedia.org/wiki/Genetically_modified_food
http://en.wikipedia.org/wiki/Transgenic_plants
http://en.wikipedia.org/wiki/Transgenic

Dan emang sebagian besar tanaman transgenik adalah kacang kedele ...

Aku menunggu pendapat mr antonrahmadi ah ...  gawi.gif.gif" style="vertical-align:middle" emoid="/gawi" border="0" alt="gawi.gif" />.gif" style="vertical-align:middle" emoid="/gawi" border="0" alt="gawi.gif" />

Atau mr successary juga mo nimbrung?
Who are You?
What do You want?
Where are You going?
Who do You serve?
Who do You trust?

#3 RoyIrwan

RoyIrwan

    TK

  • Members
  • PipPip
  • 25 posts
  • Gender:Male
  • Location:Jakarta

Posted 26 July 2006 - 11:38 PM

Ai juga setuju kalo ragunya siy. Dan mudah2an pemerintah bisa mengambil posisi di-tengah2 antara pro-kontra kasus ini.

Inget waktu masalah formalin. Udah ber-tahun2 pemerintah cuek bebek (baca: kurang serius). Ujung-ujungnya 'panik'. Jangan sampai masalah ini berulang kembali.

#4 panji_millenium

panji_millenium

    Orang Aneh

  • e-modz
  • PipPipPipPipPipPipPipPipPip
  • 3,542 posts
  • Gender:Male
  • Location:Di hatimu
  • Interests:Otomotif and gadget, smartphone and pocket pc

Posted 27 July 2006 - 07:35 AM

makanya .. minum aja lagi tuh susu kedele tiap hari .. hahaha .. gempor gempor dah lo .... ( untung ai ga suka minum susu kedele ...  e8.gif.gif" style="vertical-align:middle" emoid="/e8" border="0" alt="e8.gif" />.gif" style="vertical-align:middle" emoid="/e8" border="0" alt="e8.gif" />  )

mister potato, pringleys ? wow .. pernah makan .. soalnya aku penggemar kripik kentang .. mudah2an chitato aman2 aja .. soalnya enyak ...  e5.gif.gif" style="vertical-align:middle" emoid="/e5" border="0" alt="e5.gif" />.gif" style="vertical-align:middle" emoid="/e5" border="0" alt="e5.gif" />

wah harus hati2 nih kalo mesen menu sapo tahu .. nyam nyam ... tofu nya beracun ya .. wahahha .. udah kayak tempe bongkrek aja .. dilanjuttt .....

BR
Panjie
Cinta itu indah ... Kebersamaan adalah kesempurnaan dari cinta ..

Bila kita tidak bisa bersama lagi .. Cinta itu akan tetap indah namun tidak sempurna lagi ..

#5 erwinkiting

erwinkiting

    Modz e-campus

  • e-modz
  • PipPipPipPipPipPipPip
  • 1,115 posts
  • Gender:Male
  • Location:Samarinda
  • Interests:Tukang Coding Delphi

Posted 27 July 2006 - 08:42 AM

kok jaman sekarang banyak zat yang berbahaya pada makanan dan baru terdeteksi sekarang, dulu waktu mendapatkan ijin dari depkes nyogok ya?.

#6 antonrahmadi

antonrahmadi

    SD

  • Members
  • PipPipPip
  • 78 posts
  • Gender:Male
  • Location:Sydney, AU

Posted 29 July 2006 - 12:11 PM

Berikut artikel yang saya kirimkan ke redaksi tribunkaltim

Setelah kasus formalin, kembali dunia pangan Indonesia diintroduksi dengan istilah baru lainnya.  Istilah yang kali ini dikedepankan adalah pangan transgenik. Produk hasil rekayasa genetika ini menyimpan segudang masalah, diantaranya ada yang berdampak pada kesehatan manusia.
Perjalanan suatu bahan pangan hingga disebut sebagai pangan transgenik sebenarnya cukup panjang, dan tentunya telah mengalami proses penelitian yang cukup lama.  Akan tetapi, pro dan kontra masih saja terjadi, karena sebenarnya, pangan transgenik ini menyimpan bahaya yang cukup besar.  Dapatkan dibayangkan bahwa kedelai yang kita makan, sebagian penyusunnya berasal dari bakteri ?
Kemajuan teknologi dan penelitian telah mencapai struktur terkecil dari unsur penyusun mahluk hidup, yaitu gen.  Gen inilah factor terkecil mengapa fisiologis manusia, hewan, dan tumbuhan dapat dibedakan.  Manusia bermata biru, hidung mancung, berpenyakit jantung, semua dikarenakan adanya gen yang spesifik. Informasi yang unik pada setiap spesies disimpan dalam jalinan DNA dan sifat ini diturunkan ke generasi selanjutnya.
Pada tahapan selanjutnya, karakterisasi gen telah mampu menghasilkan urut-urutan tertentu yang menghasilkan sifat unik suatu spesies mahluk hidup.  Urut-urutan ini kemudian secara sederhana dapat disimpan dalam wujud plasmid.  Plasmid ini dapat dipindah-pindahkan ke organisme lain, sehingga memiliki sifat unik yang sama dari spesies asalnya.
Dulu, kawin silang dikenal sebagai salah satu upaya untuk memperbaiki keturunan.  Namun, kawin silang ini masih terbatas pada spesies yang memiliki kedekatan, misalnya antar varietas.  Rekayasa genetika jauh lebih canggih dibandingkan proses kawin silang, karena plasmid dapat dipindah-pindahkan tanpa memperdulikan taksonomi atau kedekatan spesies.
Pada awalnya, proses rekayasa genetika dilakukan untuk menciptakan mahluk yang sempurna.  Dalam bidang pertanian misalnya, diciptakan kedelai yang tahan tanah asam, tahan hama, tingkat produksi tinggi, bulir yang baik dan seragam.  Dalam bidang industri medis, diciptakan mikroba yang mampu menghasilkan rennet untuk bahan baku keju, insulin untuk penderita diabetes.  
Dikarenakan gen akan diturunkan ke generasi selanjutnya, perubahan genetika ini bersifat permanen pada mahluk hidup tersebut.  Tentu saja dalam jumlah yang besar keseimbangan alam akan berubah.  Belum lagi kalau terjadi kawin silang dengan spesies yang dekat kekerabatannya.  Secara sederhananya, proses rekayasa genetika dari yang terkendali berubah menjadi tidak terkontrol lagi.
Bahaya yang tersimpan di dalam pangan transgenik tentu saja tidak langsung tampak, tetapi baru akan tampak setelah puluhan tahun berlalu.  Bahkan, ada kabar bahwa di negara-negara tertentu, hewan yang dekat kekerabatannya dengan manusia digunakan untuk memproduksi organ tubuh manusia, semisal klep jantung.
Kebanyakan industri pertanian dan medis negara maju telah menggunakan rekayasa genetika di dalam proses produksinya,  Karena di negera mereka sendiri, aturan pemasaran pangan transgenik sangat ketat, negara berkembang menjadi pasar potensial mereka.  Kabarnya, kedelai yang diimpor dari Amerika sebagian besar merupakan hasil rekayasa genetika. Begitu pula dengan jagung, tomat, dan apel.
Oleh karena itu, langkah Departemen Pertanian bekerja sama dengan BPOM dalam upaya melakukan inventarisasi pangan transgenik menjadi awal yang baik.  Masyarakat juga setidaknya belajar untuk mengenali produk-produk transgenik, tidak cuek kemudian latah seperti halnya kasus formalin pada tahu atau ikan asin.
Kabar baiknya, produk lokal Indonesia umumnya masih jauh dari sentuhan rekayasa genetika, sehingga lebih aman dikonsumsi.  Menggunakan produk lokal, menjadi solusi yang baik, disamping juga menghemat devisa negara akibat impor.
Kedelai impor bisa digantikan dengan kedelai lokal ataupun sorgum, begitu juga dengan produk-produk pertanian lainnya.  Untuk kepentingan medispun tersedia alternatif-alternatif lainnya yang bisa dieksplorasi oleh para peneliti.
Hanya saja, sekali lagi, pemerintah selain menciptakan kehebohan, harus menyediakan solusinya, misalnya dengan memberikan insentif dengan skema tertentu kepada dunia pertanian untuk memproduksi hasil pertanian yang memenuhi kebutuhan nasional.  Oleh karena itu, siapa bilang bidang pertanian tidak menarik untuk dieksplorasi ?

#7 antonrahmadi

antonrahmadi

    SD

  • Members
  • PipPipPip
  • 78 posts
  • Gender:Male
  • Location:Sydney, AU

Posted 29 July 2006 - 12:14 PM

satu lagi penjelasan tentang transgenik yang saya tulis pada tahun 2001

Sejak dahulu dengan adanya teori bahwa pertumbuhan makanan berkembang menurut deret hitung sedangkan pertumbuhan jumlah penduduk menurut deret ukur, riset-riset terhadap peningkatan produksi pertanian semakin gencar.  Dimulai dengan adanya revolusi hijau yang ternyata menyebabkan pencemaran dan ketidakseimbangan zat hara tanah, kemudian berlanjut dengan revolusi biru yang hingga kini masih dalam taraf pengembangan.  Pencarian bibit unggul yang merupakan salah satu upaya meningkatkan produksi pertanian, berkembang dari memadukan keunggulan pada antar vaietas dengan mengadakan perkawinan silang hingga mengutak-atik genetik tanaman.  Perkembangan ini dimungkinkan karena telah dikuasainya teknologi DNA.
Munculnya istilah transgenik lebih disebabkan oleh telah berhasilnya para ilmuwan negara maju untuk memindahkan DNA penyandi sifat tertentu dari suatu spesies makhluk hidup ke spesies lainnya yang secara taksonomi sangat berbeda. Sebenarnya teknologi perkawinan silang,  juga dapat dimasukkan dalam kategori teknologi transgenik namun bersifat konvensional.  Pemindahan genetik ini bertujuan untuk menghasilkan tanaman yang “sempurna” yaitu tanaman yang mampu ditanam dalam kondisi ekstrim, tahan penyakit dan gangguan hama, memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi dan lengkap, hingga memiliki umur simpan yang jauh lebih panjang pada teknik penyimpanan minimal.
Di kawasan regional Asia Tenggara, hampir setiap negara pertumbuhan negaranya berbasiskan pertanian, sehingga teknologi transgenik lebih dimaksudkan  untuk digunakan pada tanaman dibandingkan untuk hewan.  Malaysia sebagai salah satu negara diantaranya, mulai melakukan riset atas tumbuhan transgenik dengan membagi dalam empat bagian, yaitu tanaman pangan, tanaman hias (ornamen), tanaman industri, dan tanaman kehutanan.  Hasil implementasi teknologi transgenik oleh Malaysia diantaranya adalah beras, pepaya, nanas, cabai, anggrek dan kelapa sawit.  Begitu pula halnya dengan negara produsen beras terbesar di dunia, Thailand, implementasi tanaman transgenik telah diterapkan pada beras, singkong, nanas kaleng, baby corn, tomat, dan tanaman-tanaman ornamen.  Bahkan di negara tesebut, telah terbentuk sebuah Pusat Rekayasa Genetik dan Bioteknologi (BIOTEC) yang didukung oleh dana APBN hingga mencapai 0,75 % dari total belanja dalam APBN (Sriwitanapongse, 2000; Low, 2000).
Di satu sisi, pangan transgenik memang membawa keuntungan tetapi juga memiliki kerugian. Namun dengan kecanggihan teknik analisis dan kehati-hatian dalam melakukan eksploitasi terhadap pangan transgenik, kerugian-kerugian tersebut dapat diminimalisasi.  Kekhawatiran implementasi terhadap tanaman transgenik lebih ditujukan untuk varietas-varietas yang nantinya akan menjadi pangan konsumsi manusia.  Sedangkan spesies yang digunakan untuk industri seperti karet, pulp, dan kapas, perkembangan teknologi transgenik tidak melalui tahap penelitan dampak terhadap lingkungan seketat pada tanaman pangan transgenik.  
Contoh kasus yang pernah terjadi di dunia adalah ditemukannya efek yang signifikan terhadap sistem imun tikus yang mengkonsumsi kentang dengan penambahan gen lektin yang berasal dari tumbuhan yang tahan hidup pada kondisi bersalju.  Tetapi pada penelitian lebih lanjut dengan mengacu pada aspek statistik, pengujian klinis, psikologi, kandungan nutrisi, analisis kuantitatif gen, dan preparasi sistem imun, efek akibat pemindahan genetik pada kentang tidak terbukti secara nyata.  Namun begitu, pro dan kontra terhadap pangan transgenik terus berlanjut.  Penelitian yang intensif melahirkan peraturan yang ketat dalam masalah pangan transgenik.
Sebagai gambaran ketatnya penggunaan teknologi pangan transgenik, Departemen Pertanian Thailand menetapkan bahwa analisis resiko dilakukan dalam empat tahap yaitu dalam ruang pertumbuhan sangat tertutup yang jika tahap ini berhasil dilewati maka akan dilanjutkan pada percobaan di rumah kaca yang mampu melindungi keluarnya serbuk sari dari ruangan.  Tahap selanjutnya yaitu diujicobakan pada rumah kaca yang tahan serangga, dan akhirnya pada lahan pertanian tertutup. Standar yang ditetapkan oleh lembaga ini adalah Plat Quarantine Act, yaitu semua tumbuhan transgenik dilarang untuk dibawa ke dalam negeri kecuali untuk keperluan penelitian dalam pengawasan dan jaminan dari Departemen Pertanian (DOA, 2000)
Begitu pula halnya dengan negara lain seperti Australia, CSIRO sebagai lembaga representatifnya telah membentuk lembaga Komisi Penasihat tentang Manipulasi Genetik (GMAC) pada tahun 1987, dengan tugas melakukan inovasi, penelitian resiko keamanan biologis, dan memberikan masukan terhadap kebijakan pemerintah.  Keseriusan kerja dari lembaga ini telah menghasilkan berbagai ketentuan terhadap pangan transgenik yang saat ini mencapai tahap akhir dalam penentuan regulasi kerangka kerja produk transgenik.  Kerangka kerja (framework), merupakan integrasi antara aspek konsumen, kepercayaan terhadap regulasi keamanan, perhatian terhadap lingkungan, komersialisasi, perkembangan industri, dan penggunaan label secara umum (Huppartz, 2000).  
Secara garis besar, penerapan pangan transgenik yang berasal dari Australia dan NewZeland harus menaati peraturan yang diterapkan oleh ANZFA (Australia and New Zeland Food Authorities) yang meliputi tiga ketentuan.  Ketentuan pertama adalah  setiap pangan harus melalui tahap demi tahap analisa resiko, berdasarkan pengujian keamanan. Ketentuan kedua adalah pangan transgenik yang merubah sifat asli dengan penambahan DNA dari spesies lain wajib untuk diberi label.  Sedangkan menurut ketentuan ketiga, pangan transgenik yang tidak melibatkan teknologi pemindahan gen atau hanya menggunakan teknologi konvensional seperti kawin silang, tidak memerlukan label khusus dalam pemasarannya. Peraturan ini kemudian diadopsi menjadi peraturan bersama dalam rapat FAO pada tanggal 5 – 10 November 1990 (Van den Eede et al., 2000).
Indonesia sebagai salah satu mantan lima besar pemasok beras dunia, dibandingkan dengan Thailand, ternyata belum tergugah untuk meneliti tanaman transgenik untuk meningkatkan produksi berasnya ataupun produksi tanaman lainnya.  Jargon-jargon bahwa Indonesia kaya akan plasma nutfah yang dapat dimanfaatkan untuk penemuan varietas unggul tanaman, ternyata tidak menjadi bekal bagi pemerintah dalam upaya mendongkrak pemasukan negara melalui jalur pertanian, seperti halnya yang dilakukan Thailand dan Malaysia.  Penelitian-penelitian yang dilakukan oleh akademisi masih terbilang sangat sedikit akibat keterbatasan dana.  Keengganan sponsor swasta maupun pemerintah lebih disebabkan kurangnya perhatian akan pengaruh pangan transgenik terhadap kesehatan sekaligus murahnya biaya impor dibanding produksi pangan nasional.   Pengembangan produk pangan transgenik baru-baru ini akan dilakukan oleh Indonesia bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan dari Amerika Serikat dengan memanfaatkan plasma nutfah endemik di Indonesia.
Sementara itu, heboh beredarnya produk transgenik hasil impor seperti kedelai dengan tambahan DNA dari Bacillus thuringiensis (dikenal sebagai kedelai Bt), juga belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Regulasi terhadap produk-produk transgenik terutama bidang pangan, baru berdasarkan Undang-undang Pangan no 7 tahun 1996, yang belum ditindak lanjuti dengan mendirikan lembaga riset nasional khusus dalam pengembangan ataupun penelitian resiko terhadap produk transgenik.  Berbagai kerancuan ini, yang jika tidak dilakukan pengaturan mulai dari sekarang akan mengakibatkan dampak yang tidak terbayangkan pada kerusakan ekologi, lingkungan, hingga jaminan keamanan pangan nasional.
Solusi dari permasalahan saat ini adalah adanya kerjasama antara akademisi, legislatif, yudukatif, eksekutif dan institusi swasta dalam pengembangan potensi pangan transgenik, menyusun peraturan terhadap pangan transgenik, melakukan penelitian dan pemeriksaan keamanan terhadap produk-produk pangan impor yang dicurigai sebagai pangan transgenik, melakukan penegakan hukum sesuai perundangan yang berlaku, dan melakukan advokasi terhadap konsumen maupun produksen yang memanfaatkan bahan baku pangan yang dicurigai berasal dari hasil teknologi transgenik.  
Di dunia, perseteruan negara maju benua Amerika dengan negara-negara Eropa menghasilkan sebuah konklusi untuk beredarnya pangan transgenik tetapi dengan label, sehingga keputusan berada pada tangan konsumen.  Persepsi konsumen negara maju terhadap pangan transgenik juga sangat bervariasi karena konsumen diberi informasi terhadap keunggulan pangan transgenik sekaligus juga kerugiannya secara terus-menerus dan berubah dengan cepat.  Namun, hal ini tidak bisa diterapkan di Indonesia secara sepenuhnya, karena sebagian besar penduduk Indonesia, tingkat pendidikannya rendah.  Oleh karena itu, peran advokasi dan regulasi memegang peranan yang sangat penting dalam memberikan pengertian serta jaminan keamanan bagi konsumen negara ini.  Peranan media cetak dan elektronik terhadap pangan transgenik perlu ditingkatkan misalnya dengan penyajian rubrik pendidikan tentang teknologi transgenik, penjelasan rantai makanan, pengaruh makanan terhadap metabolisme tubuh, keamanan pangan, dan labelisasi pangan transgenik.  Semoga pemerintah yang menjadi pengambil keputusan negara dapat melakukan inisiasi terhadap peningkatan perhatian akan pentingnya pemanfaatan teknologi pangan transgenik sekaligus peningkatan jaminan keamanan pangan rakyat.

#8 volron

volron

    modz e-health

  • e-modz
  • PipPipPipPipPipPipPipPipPip
  • 3,680 posts
  • Gender:Male
  • Location:Samarinda
  • Interests:volron possesses an interesting balance of hemispheric and sensory characteristics, with a slight right-brain dominance and a slight preference for visual processing.<br /><br />google talk: isnuwardana di gmail dot com<br />skype: isnuwardana

Posted 29 July 2006 - 02:20 PM

Panjang mr anton ... ro_emote_swt.gif

Tapi yang saya pengen tahu apakah ada bahayanya makanan transgenik?

Bagi ekologi?
Bagi manusia?
Who are You?
What do You want?
Where are You going?
Who do You serve?
Who do You trust?

#9 antonrahmadi

antonrahmadi

    SD

  • Members
  • PipPipPip
  • 78 posts
  • Gender:Male
  • Location:Sydney, AU

Posted 30 July 2006 - 06:31 PM

secara simpel

bagi ekologi: rekayasa genetik menjadi tidak terkendali, mengingat sifat tumbuhan/hewan yang bisa dikawinsilangkan, serta berbahaya bila terjadi mutasi. adaptasi beberapa spesies menjadi kebal sehingga makin mengacaukan rantai kehidupan

bagi manusia: kemungkinan plasmid melekat menggantikan sebagian untaian DNA manusia (jauh banget sih).

kalau di ilmu pangan, istilah yang terkenal adalah Genetically Modified Food (GMF) dan Genetically Modified Organism (GMF).  Istilah transgenik juga banyak digunakan oleh teman-teman pemuliaan tanaman.  Sampai saat ini yang sudah terbukti adalah dampak ekologinya, terbukti dari beberapa laporan EPA, khususnya pada produk pertanian asal US.

#10 volron

volron

    modz e-health

  • e-modz
  • PipPipPipPipPipPipPipPipPip
  • 3,680 posts
  • Gender:Male
  • Location:Samarinda
  • Interests:volron possesses an interesting balance of hemispheric and sensory characteristics, with a slight right-brain dominance and a slight preference for visual processing.<br /><br />google talk: isnuwardana di gmail dot com<br />skype: isnuwardana

Posted 30 July 2006 - 07:08 PM

Umm ... jadi saat ini yang terbukti baru bahaya secara ekologi yah ..., terhadap tanaman lain yang satu spesies ...

Belum ada terbukti bahaya pada manusia ...

Plasmid yang ada di tanaman transgenik kan ngga begitu saja masuk ke DNA manusia .. perlu ada pembawanya dulu, misalnya virus .... Lagipula sel dan DNA manusia kan punya pertahanan terhadap serangan plasmid asing ... selama pertahanan tadi berfungsi baik kan OK saja ...
Who are You?
What do You want?
Where are You going?
Who do You serve?
Who do You trust?




0 user(s) are reading this topic

0 members, 0 guests, 0 anonymous users